PENGAWASAN DAN MONITORING DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NUSA PENIDA BULAN APRIL 2021

Pengawasan di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida merupakan salah satu kegiatan rutin bulanan dari UPTD. Kawasan Konservasi Perairan Bali. Pengawasan dilakukan untuk mengetahui kegiatan pemanfaatan yang terjadi di wilayah KKP sekaligus mensosialisasikan keberadaan zonasi serta mendata potensi sumberdaya alam didalamnya. Berdasarkan dari Surat Perintah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi  Bali Nomor 28 Tahun 2021 dan Surat Undangan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Bali Nomor : 005/411/UPTD.KKPB/Dislautkan pada tanggal 21 April 2021, Tim Gabungan Pengawasan  UPTD. Kawasan Konservasi Perairan Bali berkolaborasi dengan Yayasan Coral Triangle Center (CTC) dan Perwakilan Satuan Polisi Perairan (Sat Pol Air) Polres Klungkung melaksanakan kegiatan pengawasan rutin bulan April.

Gambar 1. Tim Gabungan Pengawasan KKP Nusa Penida (dok: UPTD. KKP Bali)

Kegiatan pengawasan dimulai dengan apel dan doa bersama pada pukul 08.00 WITA dipimpin oleh Ir. I Nengah Bagus Sugiartha (Kepala UPTD. Kawasan Konservasi Perairan Bali) selaku Ketua Tim serta diikuti oleh Ipda Gede Suparta (Perwakilan Satuan Polisi Perairan (Sat Pol Air) Polres Klungkung), Tim Patroli UPTD KKP Bali (6 orang) dan Dewa Wira Sanjaya (LSM CTC). Seluruh tim kemudian berlanjut menuju Pelabuhan Sampalan menggunakan boat “SD Point” untuk menyurusi laut Nusa Penida kearah timur. Patroli pengawasan sumberdaya dilakukan dengan mengelilingi Pulau Nusa Penida terus ke perairan Nusa Ceningan dan Lembongan kemudian kembali lagi ke Pelabuhan Sampalan pukul 13.31 WITA.

Gambar 2. Apel dan Doa Bersama sebelum Memulai Patroli Pengawasan KKP Nusa Penida (dok: UPTD. KKP Bali)

Selama 5 jam penyusuran Tim Patroli Gabungan menemukan kegiatan pemanfaatan berupa kegiatan pariwisata dan perikanan. Kegiatan Pariwisata yang ditemukan sebanyak 5 armada dengan jumlah wisatawan 29 orang. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan bulan sebelumnya dikarenakan masyarakat mulai beradaptasi dengan New Normal ditengah wabah pandemi yang masih melanda. Pemanfaatan lainnya yang ditemukan yaitu kegiatan perikanan sebanyak 23 nelayan ( Nelayan Tebing : 9 orng; Nelayan berarmada : 14 orang). Hasil tangkapan nelayan di wilayah KKP Nusa Penida berupa ikan karang (76 kg), danl (68 kg).

Gambar 3. Kegiatan Nelayan Memancing Ikan di Wilayah KKP Nusa Penida (dok: UPTD. KKP Bali)

Hasil pengawasan di lapangan ditemukan penangkapan lobster di KKP Nusa Penida dengan menggunakan alat bantu  penangkapan ikan berupa kompressor.  Penggunaan kompressor ini dilakukan oleh 6 nelayan di wilayah Zona Inti Atuh (1 orang), Zona Pariwisata Bahari Bunga Mekar (4 orang), Zona Perikanan Tradisional Sekartaji (1 orang). Sehubungan dengan temuan tersebut Tim melakukan teguran dan sosialisasi bahwa  sesuai pasal 9 UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan bahwa “Setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumberdaya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia”.  Dalam penjelasan Undang-undang tersebut juga disebutkan bahwa alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlajutan sumberdaya ikan termasuk diantaranya jaring trawl atau pukat harimau, dan/atau kompressor.

Menurut informasi dari nelayan yang melakukan aktifitas penangkapan mengaku bahwa lobster hasil tangkapan akan digunakan untuk indukan budidaya di karamba jaring apung di Serangan. Seluruh nelayan yang ditemukan melakukan pelanggaran diberikan sosialisasi keberadaan zonasi di KKP serta dihimbau untuk menghentikan kegiatan yang melanggar aturan di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida. Tim juga sempat melakukan pengecekan pontoon Bounty yang tenggelam dan sesuai surat pihak pemilik sudah mengupayakan untuk mengangkat bangkai pontoon tersebut. Selanjutnya akan dikoordinasikan agar ada percepatan pembersihan bangkai pontoon tersebut kepada pemilik perusahaan. (gdh)