Seaweed for community, seaweed for conservation!

Gambar 1. Thallus rumpus laut jenis Euchema cottonii

Seaweed

Seaweed atau rumput laut, secara ilmiah dikenal dengan istilah algae atau ganggang. Rumput laut merupakan tumbuhan berklorofil dan digolongkan sebagai tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki akar, batang maupun daun sejati, melainkan hanya menyerupai batang, yang disebut thallus. 

Secara umum rumput laut tumbuh di perairan dangkal (intertidal dan sub litoral) dengan kondisi dasar perairan berpasir, sedikit berlumpur atau campuran keduanya. Untuk tumbuh, umumnya rumput laut melekat pada substrat tertentu, seperti karang, lumpur, pasir, batu atau benda keras lainnya. Sifat rumput laut ini disebut juga sebagai benthic algae, yaitu bersifat melekat (benthic). Nutrisi diambil dari sekitarnya secara difusi melalui dinding thallus.

Gambar 2. Petani rumput laut (Sumber: eco-business.com)

Beragamnya kandungan dan manfaat pada rumput laut, menjadikan komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Selain untuk dikonsumsi, rumput laut secara luas dimanfaatkan di industri farmasi, pertanian, tekstil maupun food processing di lebih dari 50 negara di dunia. Adanya kebutuhan bahan baku rumput laut untuk industri tersebut menjadikan budidaya rumput laut memiliki peran penting bagi masyarakat pesisir, diantaranya:

  • Sebagai salah satu mata pencaharian alternatif dan sumber pendapatan.
  • Budidaya rumput laut, yang usahanya relatif sederhana dan mudah dilakukan, dikategorikan sebagai kegiatan yang gender-neutral, sehingga memberikan kesempatan kaum perempuan untuk berpartisipasi dan mendapatkan penghasilan.
  • Dari sisi budaya, kegiatan ini memiliki nilai tradisi yang tinggi karena dalam prakteknya, tahapan-tahapan kegiatan dari persiapan, penanaman, pemeliharaan hingga pemaneman, berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di beberapa kawasan pesisir di Indonesia, sistem pengelolaan budidaya rumput laut berada di bawah naungan tradisi dan hukum adat. 
Gambar 3. Budidaya rumput laut di kawasan konservasi perairan Nusa Penida, Bali (sumber: Dislautkan)

Rumput laut untuk konservasi

Dibalik peran sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat pesisir, rumput laut juga memiliki peran ekologis dan biologis penting untuk mendukung tujuan konservasi yaitu pelestarian sumber daya laut, antara lain:

  • Carbon sequestration. Rumput laut memiliki kemampuan untuk menyerap emisi karbon dalam jumlah yang sangat besar, sehingga membantu mencegah terjadinya pengasaman laut (ocean acidification).
  • Bio-filter. Rumput laut berperan sebagai penyaring alami, dengan menyerap nutrient, seperti Nitrogen (N) dan Fosfat (P) yang terlarut ke perairan laut serta memperbaiki kualitas oksigen dalam air.  Dengan kata lain, rumput laut memiliki peran penting dalam mitigasi eutrofikasi pantai.
  • Phytoplankton bio-mitigation. Rumput laut berperan dalam mencegah/mengontrol ledakan jumlah fitoplankton di perairan laut. Rumput laut yang rimbun menghalangi penetrasi sinar matahari di areal budidaya. Intensitas cahaya yang tidak memadai membatasi pertumbuhan fitoplankton.
  • Biodiversity restoration. Rumput laut dengan kemampuannya melakukan fotosintesis menjadikannya sumber energi bagi keberlangsungan hidup berbagai jenis biota yang mengkonsumsinya, seperti abalone, udang, ikan, bulu babi yang kemudian menjadikannya rantai makanan yang lebih kompleks. 
  • Juvenile shelter. Sebagai tempat hidup sekaligus perlindungan bagi biota yang memasuki tahapan juvenile dari hewan predator.

Penulis: I A P Riyastini, M.Env

Referensi

  1. J. Zhang and D. Kitazawa, “Assessing the bio-mitigation effect of integrated multi-trophic aquaculture on marine environment by a numerical approach,” Mar. Pollut. Bull., vol. 110, no. 1, pp. 484–492, 2016.
  2. E. M. Marzinelli, A. H. Campbell, A. Vergés, M. A. Coleman, B. P. Kelaher, and P. D. Steinberg, “Restoring seaweeds: does the declining fucoid Phyllospora comosa support different biodiversity than other habitats?,”J. Appl. Phycol., vol. 26, no. 2, pp. 1089–1096, 2014.
  3. X. Xiao et al., “Nutrient removal from Chinese coastal waters by large-scale seaweed aquaculture,” Sci. Rep., vol. 7, no. October 2016, pp. 1–6, 2017.
  4. P. Kaladharan, S. Veena, and E. Vivekanandan, “Carbon sequestration by a few marine algae : observation and projection,” J. Mar. Biol. Assoc. India, vol. 51, no. 1, pp. 107–110, 2009.