Inovasi AKAD Berbasis IoT, Transformasi Digital Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali dalam Meningkatkan Kualitas Budidaya Perikanan

Denpasar, 4 Agustus 2026 – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pelayanan publik yang inovatif melalui pengembangan Analisa Kualitas Air Digital (AKAD) Berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini lahir sebagai solusi atas kebutuhan pemantauan kualitas air budidaya yang selama ini masih dilakukan secara manual, memerlukan waktu, biaya, dan belum mampu memberikan informasi secara cepat ketika terjadi perubahan kondisi lingkungan perairan.
Kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha budidaya perikanan. Perubahan suhu, pH, maupun kadar oksigen terlarut yang tidak terdeteksi secara dini dapat mengakibatkan stres pada ikan, menurunkan produktivitas, bahkan menyebabkan kematian massal. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi dan kerugian bagi pembudidaya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali mengembangkan Analisa Kualitas Air Digital (AKAD), sebuah inovasi yang memanfaatkan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT) untuk melakukan pemantauan kualitas air secara real-time, akurat, dan berkelanjutan. Data hasil pengukuran dikirim secara otomatis ke dashboard digital sehingga dapat dipantau oleh petugas maupun pembudidaya melalui komputer atau telepon pintar tanpa harus selalu berada di lokasi budidaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali , Putu Sumardiana, menjelaskan bahwa inovasi AKAD merupakan bagian dari transformasi digital pelayanan publik yang berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat.
“AKAD bukan sekadar alat pemantau kualitas air, tetapi merupakan inovasi pelayanan yang membantu pembudidaya memperoleh informasi secara cepat sehingga keputusan penanganan dapat dilakukan lebih dini. Dengan demikian, risiko kerugian dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan pelayanan pemerintah menjadi lebih efektif, efisien, serta berbasis data,” ungkapnya.
Melalui sistem AKAD, berbagai parameter penting kualitas air, seperti suhu, derajat keasaman (pH), kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen), dan parameter lainnya dapat dipantau secara otomatis. Sistem ini juga menyimpan data historis sehingga memudahkan analisis tren kualitas air sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknis budidaya.
Dibandingkan metode konvensional, AKAD menghadirkan sejumlah keunggulan, antara lain:
• Pemantauan kualitas air secara real-time selama 24 jam.
• Pengambilan keputusan yang lebih cepat melalui informasi berbasis data.
• Efisiensi waktu dan biaya operasional pemantauan lapangan.
• Penyimpanan data secara digital sehingga mudah dianalisis dan didokumentasikan.
• Mendorong penerapan budidaya perikanan yang lebih modern, adaptif, dan berkelanjutan.
Selain memberikan manfaat langsung kepada pembudidaya, inovasi ini juga mendukung pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), penguatan reformasi birokrasi, serta implementasi kebijakan transformasi digital di lingkungan Pemerintah Daerah. Data yang dihasilkan AKAD dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan, evaluasi program pembinaan, hingga pemetaan kondisi kualitas air pada kawasan budidaya.

Skip to content